Pakar Budidaya Cabai Merah

Budidaya
data:post.title

Cabai merah (Capsicum Annum) dapat dibudidayakan di dataran rendah maupun dataran tinggi, pada lahan sawah atau tegalan dengan ketinggian 0-1000 m dpl dengan pH tanah antara 6 - 7. Macam-macam varietas cabai merah sudah dilepas di pasaran, dan yang tergolong unggul diantaranya adalah varietas; Adipati F1, Astina F1, Kresna F1, Maraton F1, Prabu F1, Provost F1, Sultan F1, Senopati F1 dan wibawa F1.

Pengolahan Tanah meliputi membuat persemaian berupa bedengan dengan lebar 1 m, tinggi 15 - 30 cm dan panjang bisa disesuaikan dengan keadaan lahan. Beri atap naungan plastik transparan, dan sebaiknya menghadap ke arah timur. Media persemaian terdiri dari campuran tanah halus dan pupuk Kompos dengan perbandingan 1:1. Sebelum benih disemai, bibit direndam dalam air hangat 50oC ditambah dengan fungisida Previcur N (1 cc) selama 4 - 8 jam, guna mempercepat perkecambahan dan menghilangkan penyakit yang terbawa dari benih. Agar lebih baik, benih yang sudah direndam dimasukkan ke kain basah lalu lipat. Setelah calon akar terlihat, benih disebar rata pada bedengan lalu tutupi dengan tanah halus tipis-tipis, kemudian tutup dengan daun pisang atau karung basah. Setelah benih berkecambah penututup daun pisang atau karung dibuka. Penyiraman media semai menggunakan gembor tiap pagi atau sore hari agar media tanam tetap lembab.

Setelah 2 helai daun terbentuk, bibit dipindah tanam ke dalam bumbungan dengan  media tanam yang sama (campuran tanah dan kompos atau pupuk kandang matang). Dengan menggunakan bumbungan maka dapat mengurangi kerusakan pada akar, dan ketika dipindah tanamkan ke lapangan tidak akan mengalami stress. Aplikasikan pupuk daun selama dipersemaian 7 hari sekali menggunakn 1/4 dari dosis normal. Sebelum dipindah tanam ke lapangan, lakukan penguatan bibit dengan cara membuka atap persemaian agar bibit dapat menerima sinar matahari langsung dan mengurangi penyiraman secara bertahap (Penguatan bibit dilakukan selama 7 hari). Bibit siap ditanam setelah membentuk  4-6 helai daun.

Pengolahan tanah dilakukan 2 minggu sebelum tanam, dengan cara olah tanah Konservasi atau cara Konvensional yaitu dengan pembersihan gulma, pencangkulan, meratakan permukaan tanah, pembuatan bedengan, penggaritan dan lubang tanam. Lahan diolah sedalam 30 cm sampai gembur dan dibuat bedengan dengan lebar 1 m, tinggi 30 cm, jarak antar bedeng 40 cm dengan kedalaman 30 cm. Jarak tanam 50-60 cm x 40-50 cm.

Penggunaan  MPHP (mulsa plastik hitam perak) merupakan usaha untuk memberikan kondisi lingkungan pertumbuhan yang baik. Mulsa dapat memelihara struktur tanah tetap gembur dan menjaga kelembaban pada suhu tanah. Juga akan mengurangi pencucian hara, menekan tumbuhnya gulma dan mengurangi erosi tanah. Alternatif lain selain dari penggunaan mulsa, bisa menggunakan jerami setebal 5 cm pada permukaan tanah, Namun sebaiknya digunakan pada musim kemarau.

Cabai mempunyai toleransi sedang terhadap kemasaman tanah, namun apabila pH tanah 5.5 maka perlu dilakukan pengapuran menggunakan kapur pertanian. Pengapuran dilakukan 2 -3 minggu sebelum tanam, dengan cara disebar kemudian diaduk dengan tanah hingga tercampur rata.

Pemupukan diberikan ketika tanaman berumur 2 minggu setelah tanam, dengan cara penugalan disekitar perakaran (5 cm dari batang tanaman). Sebaiknya menggunakan pupuk NPK berkadar N tinggi 1,5 - 2,5 g/pohon kemudian tutup kembali dengan tanah. Selain dari pemupukan dengan cara penugalan, akan lebih baik jika pemupukan di lakukan dengan sistem kocor (100 - 200 cc/pohon sesuai pertumbuhan) yang dilakukan 2 minggu sekali.

Cabai tidak tahan terhadap kekeringan, begitu juga dengan genangan air. Tanah lembab sangat mendukung pertumbuhan dan perkembangan tanaman cabai merah. Masa kritis terhadap kebutuhan air adalah saat pertumbuhan vegetatif, pembentukan bunga dan buah. Kelembaban tanah yang ideal untuk tanaman cabai berkisar antara 60-80%. Hal ini dilihat dari perkembangan panjang akar, jumlah bunga dan bobot buah cabai merah. Kebutuhan air per tanaman selama fase vegetatif adalah 200 ml tiap 2 hari dan terus meningkat menjadi 400 ml tiap 2 hari pada fase pembungaan dan pembuahan.

Upaya untuk meningkatkan efisiensi penggunaan air, penerapan sistem irigasi tetes untuk lahan kering akan lebih efisien, baik ditinjau dari segi penggunaan air maupun respon tanaman terhadap pemberian air pengairan. Petani biasanya melakukan pengairan dengan sistem LEB selama 15-30 menit, dan setelah itu air dikeluarkan kembali dari petakan.

Pemberian Unsur hara (Mikro) melalui daun harus dilakukan 7 - 10 hari 1 kali dengan cara penyemprotan. Gunakanlah pupuk daun + zpt ketika pertumbuhan vegetatif. Memasuki fase generatif, gunakan pupuk buah + ZPT untuk merangsang pembungaan yang maksimal. Untuk melindungi tanaman dari serangan penyakit, gunakan fungisida setiap kali penyemprotan, dan akan lebih baik jika menggunakan Fungisida golongan Triazole.

Untuk mengendalikan hama pada tanaman cabai seperti TUNGAU, gunakan Insektisida / Akarisida; CENTAMEC 36 EC. Sedangan hama KUTU DAUN DAN TRIPS gunakan; CAPTURE 100 EC,
CBA-FIP 50 SC atau CHLORMITE 400 EC. Dan untuk hama ULAT GRAYAK gunakan; BUZZER 500 EC, CALLICRON 500 EC, CEDRIC 100 EC atau CAROLIT 500 EC.

Mengendalikan penyakit pada tanaman cabai, seperti penyakit bercak daun dan antraknosa, gunakan Fungisida; CHAMPION 77 WP, CIGAL 500 SC, CHEMICIDE 70 WP, CHECKER 70 WP, CABRIOTOP 60 WG atau BUMPER 80 WP. Untuk menghindari Resistensi, perputaran bahan aktif Insektisida ataupun Fungisida harus dilakukan. Panen cabai pertama dilakukan pada umur 60-75 hari setelah tanam, dengan interval ± 3-7  hari.
Lanjut membaca

Posting Komentar

0 Komentar