Menuntaskan Hama Dan Penyakit Pada Tanaman Cabai

OPT
data:post.title

Gulma berdaun lebar maupun berdaun sempit akan berkompetisi dengan tanaman utama untuk memperebutkan ruang, cahaya, air, dan unsur hara serta dapat menjadi inang hama dan penyakit. Periode kritis tanaman cabai bersaing dengan gulma terjadi ketika umur 30 - 60 HST (khusus tanpa mulsa). Produktifitas tertinggi tanaman cabai di dapat dari tanaman yang bebas gulma selama 60 dan 90 HST.

Pengendalian gulma dapat dilakukan dengan cara manual, alat modern dan penggunaan Herbisida. Namun, cara terbaik untuk mencegah tumbuhnya gulma yaitu dengan menggunakan mulsa plastik hitam perak. Penanggulangan Organisme Pengganggu Tanaman yang baik bergantung pada analisa yang tepat. Hama penting yang cukup ditakuti oleh petani adalah kutu kebul. Disamping sebagai hama tanaman, kutu kebul merupakan serangga hama vektor virus yang dapat menularkan hingga 60 jenis virus, diantaranya: virus Gemini, virus mosaic, virus Clostero, virus Nepo, virus Carla, virus Poty dll.

Gejala dari serangan kutu kebul, daun yang dihisap menjadi bercak nekrotik karena rusaknya sel-sel dan jaringan daun. Begitu juga proses fotosintesa tidak berlangsung dengan normal. Selain daripada itu, kutu kebul sangat berbahaya bagi tanaman karena cukup sulit untuk dikendalikan.

Kutu kebul (Bemisia tabaci) adalah oknum yang paling bertanggung jawab atas penyebaran berbagai macam virus. Kutu kebul dewasa yang mengandung virus dapat menularkan virus ketika dia menghisap cairan tanaman. Efisiensi penularan meningkat dengan bertambahnya serangga per tanaman. Sifat kutu kebul yang mampu makan pada banyak jenis tanaman menyebabkan virus ini menular ke berbagai jenis tanaman. Efek pada tanaman yang terserang adalah; terhambatnya pertumbuhan sehingga cenderung kerdil, tunas dan cabang tidak berkembang, daun menguning, keriting dan mengakibatkan gagal panen.

Pemusnahan tanaman yang terserang virus, begitu juga membersihkan area pertanaman dari gulma yang mulai melapuk adalah upaya untuk memininalisir perkembangan kutu kebul. Penggunaan Insektisida sistemik interval 14 hari adalah cara terbaik untuk mencegah hama kutu kebul. Insektisida lain yang berbahan aktif; tiametoksam, buprofezin, diafentiuron, etiprol atau tau-fluvalinat adalah pilihan tepat untuk penanggulangan hama kutu kebul.

Selain dari hama kutu kebul dan penyakit yang ditimbulkannya, hama yang sering di temukan pada tanaman cabai adalah :
Ulat Grayak (Spodoptera sp), Thrip (Thrips parvispinus) dan Kutu Daun Persik. Hama-hama di atas dapat di kendalikan dengan Insektisida Berbahan Aktif Metomyl dan Imidakloprid secara bergilir.

Sedangkan penyakit pada tanaman cabai di antaranya;
Layu Fusarium, Bercak Ungu (Cercospora sp.) dan Busuk Buah (antraknose),

Penggunaan Fungisida kontak dan sistemik akan meningkatkan pertahanan pada tanaman dari serangan penyakit yang ditimbulkan oleh penularan hama, maupun kerusakan akibat dari curah hujan yang tinggi. Fungisida sistemik golongan Azole dan Fungisida kontak berbahan aktif Ziram ataupun Tembaga adalah pilihan terbaik.
Lanjut membaca

Postar um comentário

0 Comentários